Otak Manusia: Ayat Kauniyah Tuhan dalam Diri Manusia

Otak Manusia: Ayat Kauniyah Tuhan dalam Diri Manusia




Ukurannya hanya sebesar buah anggur. Beratnya kira-kira sama dengan sebutir kol. Inilah satu-satunya organ tubuh manusia yang tidak bisa dicangkok dan kita tetap adalah diri kita sendiri.
Robert Ornstein dan Richard F. Thompson dalam buku The Amazing Brain.

Ayat atau tanda kebesaran Tuhan ada dua macam, pertama adalah ayat qouliyah, yang berwujud kitab suci. dan kedua adalah ayat kauniyah, yang berwujud makhluk ciptaannya seperti alam semesta dan juga penghuninya yaitu manusia. Khusus didalam diri manusia saja sudah banyak sekali ayat kauniyah yang menegaskan akan kekuasaan-Nya. Sesuai dengan firman-Nya dalam al-qur'an surat Fusshilat ayat 53, yang artinya "Kami akan menunjukkan ayat (tanda) kebesaran Kami yang terdapat pada penjuru bumi dan didalam tubuh mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?".

Ya, tanda kebesaran Tuhan terdapat dimana-mana, tak terkecuali didalam tubuh manusia itu sendiri. Sudah banyak penelitian para ilmuwan yang berkaitan dengan kebesaran Tuhan yang ada dalam diri manusia, mulai dari organ tubuh seperti jantung, ginjal, otak, dan sebagainya. Hingga penelitian tentang adanya ayat al-qur'an yang terkandung di dalam DNA manusia. Terlepas dari pro dan kontra yang mengiringi setiap penemuan-penemuan ajaib para ilmuwan yang membuktikan kebenaran akan keberadaan Tuhan, memang seperti itulah faktanya bahwa dibalik pagelaran kehidupan yang terhampar ini ada Dzat yang menciptakan dan mengaturnya.

Pada postingan kali ini akan dibahas tentang organ tubuh manusia yang meskipun bentuk fisiknya sangat kecil, seukuran dengan buah anggur dan memiliki berat lebih kurang 1,5 kg namun manfaatnya sangat besar sekali. Jika organ ini sudah tidak berfungsi dengan baik sebagai mana mestinya, dipastikan seluruh tubuh tidak akan ada lagi kehidupan yang normal. Organ ini pula satu-satunya organ tubuh manusia yang tidak bisa di cangkok.Ya, dia adalah Otak.

Otak merupakan organ vital bagi manusia. Ia adalah pusat pengendali organ-organ lainnya. Otak mengatur perilaku manusia, makan, minum, tidur, bekerja, istirahat, berjalan, berlari, berdiri, duduk, dan sebagainya. Sehingga tanggungjawab otak seperti tanggungjawab seorang Raja dalam memimpin kerajaannya. Apabila otak mengalami kerusakan seperti gegar otak ringan, sedang atau bahkan parah bisa dipastikan seluruh tubuh sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Tidak ada kehidupan fisik lagi jika otak mengalami kerusakan.

Begitu pentingnya peran dan fungsi sebuah otak dalam diri manusia maka sewajarnyalah bagi manusia untuk menjaganya dengan baik. Jangan sampai ada gangguan maupun kesalahan dalam menjaga organ yang satu ini. Jangan sampai malah kita merusak otak kita sendiri dengan sadar atau tidak sadar.

Lalu bagaimana cara supaya otak kita tetap sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya? Ada dua cara, yang pertama melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari, yang kedua dengan melatih fungsi otak yaitu berfikir. Otak juga seperti organ fisik lainnya, seperti kaki atau tangan. Semakin kita melatih kaki atau tangan untuk bergerak maka semakin tangkas pula pergerakannya. Namun jika kaki atau tangan banyak kita diamkan saja, maka hasilnya pergerakannya akan lambat dan kaku. Begitupun otak, jika sering kita latih untuk berfikir dengan memberi rangsangan-rangsangan baru berupa simulasi berfikir, maka otak akan bergerak untuk terus berfikir.

Itu cara mencerdaskan otak dari segi gerak anggota tubuh. Dari segi makanan yang juga memiliki pengaruh besar terhadap otak, mesti diketahui makanan apa saja yang baik dan bagus bagi otak dan mana yang dapat merusak fungsi otak. Dikutip dari buku Belajar Cerdas karya Jalaluddin Rakhmat, disebutkan bahwa tomat merupakan jenis makanan yang mampu menjaga vitalitas otak. Kenapa tomat sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan kecerdasan otak manusia?. Karena tomat mengandung banyak anti oksidan yang bagus untuk meremajakan otak agar tetap bekerja dengan baik.

Dr. Snowdown, dari pusat penelitian manula di University of Kentucky mengatakan semakin banyak likopen –sejenis antioksidan yang kuat- dalam darah, semakin bagus ketajaman mental (mental acuity) bagi orang lanjut usia. Likopen masuk ke dalam darah hanya dengan cara memakan tomat. Menurut Dr. Snowdown, likopen mampu menetralkan radikal bebas dalam tubuh, termasuk otak, dan membuat otak tetap utuh sehingga berfungsi lebih baik dan lebih lama.

Jadi, dengan memakan tomat sesuai dengan proporsinya bisa merawat kondisi dan fungsi otak tetap baik hingga kita berusia tua. Kesehatan merupakan modal awal yang sangat penting dalam kegiatan sehari-hari. Dengan merawat otak kita sendiri dengan baik dan benar berarti kita sudah mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan. Dan bagi siapa yang bersyukur, Tuhan akan menambahkan nikmat atas orang itu.

Semoga bermanfaat.


Akhlak dalam Kehidupan Modern (Pentingkah)

Akhlak dalam Kehidupan Modern (Pentingkah?)



Hidup di zaman modern seperti sekarang masih penting dan relevankah menggunakan akhlak dan hati nurani? Ditengah kepungan kehidupan sehari-hari yang penuh dengan persaingan, kecurangan, keserakahan, saling menjatuhkan, dan seabrek aroma ajang perebutan kekuasaan individu atas individu lain, kelompok satu atas kelompok yang lain, golongan ini atas golongan diluarnya, masih adakah yang tetap bertahan menggunakan akhlak al-karimah (akhlak yang terpuji) dalam mengarungi kehidupan ini.

Lumrah kita saksikan peristiwa dan fenomena bentuk persaingan ini. Mulai dari sesama anggota keluarga, antar teman dan kawan, hingga sesama pemimpin di tingkat pemerintahan atas dan bawah. Saling menjegal satu sama lain. Saling menonjolkan diri untuk menampilkan bahwa dirinya lebih pintar, lebih benar atas orang lain. Sudah tak ada lagi jalan tengah bagaimana win-win solution diterapkan dalam praktek sehari-hari.

Bukankah sudah kita dengar dan kita baca bagaimana akhlak yang baik yang dicontohkan oleh para nabi, rosul, awliya, dan tokoh lainnya yang masih membumikan perilaku terpuji. Ketika ada masalah yang terjadi diantara mereka, bukan egoisme yang muncul tetapi kerendahan hati yang ditampilkan. Contohnya ketika Nabi Muhammad SAW sedang berdakwah, beliau dicaci maki, dihina, diancam bahkan hingga dilempari kotoran binatang oleh orang-orang kafir. Apakah Nabi Muhammad SAW membalas perlakuan kaum kafir itu dengan perlakuan yang setimpal?

Dari kisah sejarah sirah nabawiyah, diketahui bahwasanya Rasulullah tidak membalas ulang perlakuan kaum kafir. Malah beliau mendo’akan semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, dengan untaian do’a yang sangat indah yaitu “Ya, Allah berikanlah hidayah kepada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)“. Itulah contoh yang diwariskan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya dalam menghadapi perlakuan yang tidak semestinya dari sesama.

Kembali kepada urgensi menerapkan akhlak dikehidupan sekarang ini. Masih adakah kita jumpai di kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan sekitar, hingga ke dunia luas yang dapat disaksikan melalui media massa, tentang indahnya menerapkan akhlak yang terpuji itu. Malah yang sering kita saksikan adalah tindakan dan perbuatan pelampiasan nafsu, keserakahan, mengumbar syahwat, eksistensi diri, dan egosentrisme.

Korupsi pejabat setiap hari kita saksikan beritanya. Meski tiap hari juga KPK menangkap oknum pejabat yang korupsi, namun seakan tindakan korupsi itu malah semakin tumbuh dan menjalar. Bagai pepatah yang mengatakan mati satu tumbuh seribu. Satu kasus korupsi disidang, malah semakin banyak kasus korupsi lainnya yang terjadi. Saat persidangan kasus korupsi daging sapi yang melibatkan oknum pejabat A, ditemukan bukti baru tentang tindakan pencucian uang dalam bidang pembebasan lahan yang dilakukan oleh oknum pejabat A ini. Itulah yang dihadapi saat ini. Sungguh mengerikan.

Itu baru satu persidangan kasus korupsi. Bagaimana dengan persidangan kasus lain. Semakin membuat kepala pusing karena otak sudah overload, kelebihan kapasitas memori -yang sesungguhnya tidak mereka perlukan- sehingga tidak mampu mengolah secara jernih sesungguhnya apa yang sedang terjadi sekarang ini.

Tak heran semakin hari masyarakat semakin resah. Hawa panas musim kemarau semakin menambah panasnya hati dan jiwa manusia modern. Hembusan keindahan materi menumpulkan akal sehat. Bisikan kenikmatan harta benda membutakan hati nurani. Dunia yang megah dan penuh hiasan menjadi impian mayoritas manusia saat ini. Hati mereka terus dikipas-kipasi oleh nafsu untuk memiliki materi. Dibenak mereka jika memiliki dan mempunyai harta benda dunia yang mewah, materi yang melimpah, dan segala fasilitas kehidupan yang megah maka kenikmatan dan kebahagiaan akan mereka dapatkan.

Menghalalkan segala macam cara menjadi pedoman yang harus dilaksanakan. Jika mereka tidak melakukannya, maka orang lainlah yang akan mendapatkan. Sehingga saling sikut menjadi langkah selanjutnya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tak sadar bahwasanya apa yang ia inginkan terkadang hakekatnya bukanlah sesuatu yang ia butuhkan. Namun karena akal sehat, hati nurani, kejernihan jiwa sudah tertutupi, memang seperti itulah yang semestinya terjadi. Kebahagiaan lahir lebih mereka utamakan daripada kebahagiaan batin.

Lalu apakah yang didapatkan oleh manusia-manusia yang masih mengaplikasikan akhlak warisan para nabi?. Masih pentingkah menggunakan akhlak sebagai perisai tingkah laku kita sehari-hari?. Bukankah sudah kita ketahui orang yang jujur dalam kehidupan modern ini tidak mendapatkan apa-apa. Hidup dalam keadaan pas-pasan. Berbanding terbalik dengan orang yang curang. Hidup penuh dengan gelimang harta, kemewahan, dan berbagai perhiasan dunia. Bagi yang mengejar kebahagiaan dan keselamatan fisik silahkan saja berbuat semaumu, tetapi bagi yang masih mendambakan kebahagiaan dan keselamatan batin tetaplah berjuang untuk menetapi jalan yang telah Tuhan ajarkan.


Semoga Bermanfaat.

Meneladani Sikap dan Kearifan Mbah Yai Kholil Bangkalan

Meneladani Sikap dan Kearifan Mbah Yai Kholil Bangkalan




Pengantar

Ditengah krisis masyarakat Indonesia pada umumnya, dan umat islam pada khusunya, sudah seyogyanya bagi kita sebagai manusia -yang masih mempunyai empati terhadap keadaan- menggali mutiara kisah dari para ulama yang hidup di zaman dahulu. Karena dari kisah-kisah perjalanan hidup mereka banyak sekali nilai dan pedoman hidup yang dapat kita aplikasikan di kehidupan sekarang ini. Diantara kisah ulama yang mesti kita pelajari kembali sejarah kelahirannya, lingkungan tempat tinggal, serta proses dalam menjawab problematika keadaan zaman saat itu salah satunya ialah Mbah Yai Kholil Bangkalan atau biasa disebut Kiai Kholil Bangkalan.

Mbah Yai Kholil merupakan ulama yang mencetak ulama-ulama yang di kemudian hari mewarnai perjalanan zaman pra kemerdekaan negeri ita hingga pasca kemerdekaan. Sebut saja diantaranya ialah K.H Hasyim Asy'ari (pemrakarsa berdirinya Nahdlatul Ulama), K.H Abdullah Mubarok (pendiri pondok pesantren Suryalaya, Tasikmalaya), K.H As'ad Syamsul Arifin (pendiri pondok pesantren Salafiyah Asembagus, Situbondo), K.H Wahab Hasbullah (pendiri pondok pesantren Tambak Beras, Jombang), K.H Manaf Abdul Karim (pendiri pondok pesantren Lirboyo, Kediri), K.H Bisri Mustofa (ayahnya Gus Mus sekaligus pendiri pondok pesantren Rembang), serta masih banyak lagi murid-murid dari Syaichona Kholil.

Melihat rekam jejak dari Mbah Yai Kholil dalam mendidik dan menjadikan murid-muridnya sebagai ulama penerus perjuangannya, kita mesti menggali lebih dalam lagi berbagai sisi kehidupan beliau untuk kita ambil hikmah dari wejangan dan perilaku beliau sewaktu masih hidup. Meskipun sudah banyak buku dan artikel yang membahas tentang Syaichona Kholil tetapi seakan itu belum berpengaruh banyak terhadap pribadi kita msing-masing. Entah apa gerangan yang terjadi, apakah karena kita hanya sekedar membaca kisahnya saja dan tidak terinternalisasi di dalam hati dan pikiran kita, sehingga sehabis selesai membaca biografi dan kisah Mbah Yai Kholil maka selesai pula ilmu yang terdapat dalam kisah tersebut.

Dari sekian banyak kisah yang menceritakan tentang perilaku di kehidupan sehari-hari Mbah Yai Kholil, bisa kita ambil satu kisah saja tentang pentingnya penghayatan hati seseorang terhadap suatu hal dibandingkan dengan kepintaran atau kefasihan terhadap sesuatu yang hanya diluarnya saja. 

Contoh yang pas tentang peristiwa yang dimaksud diatas ialah saat ini banyak ajang dan perlombaan membaca dan menghafalkan ayat suci al-qur'an. Kebanyakan sisi yang dinilai dari acara tersebut ialah kefasihan, kelancaran, dan kemerduan saat melafalkan ayat-ayat alqur'an. Memang tujuan diadakannya acara lomba seperti itu bertujuan untuk membumikan lagi ayat-ayat alqur'an ke seluruh negeri dalam rangka da'wah penyebaran agama islam. Namun, yang agak disayangkan oleh admin pribadi ialah kurangnya perhatian dan penilaian tentang penghayatan makna ayat dan keyakinan akan ayat tersebut.

Bisa saja seseorang fasih melafalkan ayat suci alqur'an, lancar membaca, serta merdu ketika melagukan ayat demi ayat, tetapi belum tentu ia memahami betul makna yang terkandung dialam ayat yang dibacanya, terlebih lagi yakin dan mempercayai akan makna yang terkandung didalam ayat tersebut.

Dikisahkan pada suatu hari, seperti biasanya Mbah Yai Kholil mengimami sholat maghrib di pesantrennya. Bersamaan dengan itu datang tamu berkebangsaan Arab ke tempat beliau, orang Madura menyebut tamu dari bangsa Arab itu dengan sebutan habib.

Selesai melaksanakan ibadah sholat maghrib, Mbah Kholil menemui tamu yang datang ke tempatnya tersebut. Ditengah perbincangan diantara mereka, tamu yang dari Arab itu berujar kepada Mbah Kholil,

"Kiai, bacaan al-Fatihah antum kurang fasih," habib itu sedikit menegur.

"O, begitu," jawab Mbah yai Kholil dengan tenang.

Setelah cukup berbincang-bincang, habib beserta tamu-tamu itu dipersilahkan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat maghrib.

"Tempat wudhu ada di sebelah masjid itu, habib. Silahkan wudhu disana," ucap Mbah Kholil sambil menunjuk arah tempat wudhu.

Baru saja selesai berwudhu, sang habib dikejutkan dengan datangnya seekor macan. Seketika habib itu terkejut dan berteriak dengan menggunakan bahasa arab yang fasih dan lancar untuk mengusir macan tersebut. Namun tetap saja macan itu masih tetap berdiri dan tidak mau beranjak pergi dari tempat wudhu.

Mendengar ada keributan, Mbah Yai Kholil pun segera beranjak menghampiri. Melihat ada seekor macan yang rupanya mejadi penyebab terjadinya keributan, seketika itu Mbah Kholil mengucapkan beberapa patah kata yang kurang fasih. Ajaibnya, setelah Syaichona Kholil selesai berbicara macan tersebut beranjak pergi menjauh.

Dengan kejadian yang baru saja dialaminya, habib itu paham bahwa sesungguhnya Mbah Kholil ingin memberikan pelajaran bahwa suatu ungkapan atau doa bukan pada fasih, atau tidak fasih, lancar atau tidak lancar, indah atau biasa saja, tetapi sejauh mana penghayatan dan keyakinan pribadi yang bersangkutan tentang apa yang diucapkannya.

Demikianlah kisah singkat tentang kebijaksanaa dan kearifan sikap yang patut kita teladani dari Mbah Yai Kholil Bangkalan. Meskipun kita dianggap oleh orang lain kurang ini, kurang itu, harus seperti ini, harus seperti itu, selagi kita meyakini dan mengetahui dengan benar apa yang sedang kita ucapkan atau lakukan, hadapi saja dengan tenang. Tidak usah berdebat atau balik memarahi orang yang "menasehati" kita itu. Sadarkan dengan arif dan contoh yang baik. Itulah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW.

Semoga ditengah gencarnya gerakan dakwah yang bersifat pemaksaan dan menggunakan kekerasan dalam berdakwah, kita masih bisa secara jernih menelaah apa yang perlu kita perbaiki dari metode tersebut, bersabar menghadapi peristiwa yang tidak mengenakkan hati, dan kemudian dengan arif dan memberikan contoh yang baik bagaimana seharusnya mengajak orang lain untuk setidaknya mendengar dan memperhatikan ajakan kita tersebut.

Sumpah Pemuda, Mencetuskan Kembali Nasionalisme Yang Hilang

Sumpah Pemuda, Mencetuskan Kembali Nasionalisme Yang Hilang



Sumpah pemuda merupakan persitiwa sejarah dan bersejarah dalam proses perjuangan meraih kemerdekaan bangsa dan negara dari cengkeraman campur tangan bangsa lain. Frase sumpah pemuda tidak lain yang dimaksud adalah ikrar kongres pemuda yang diselenggarakan selama dua hari, tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (sekarang Jakarta).


Semangat sumpah pemuda yang dilakukan pada tahun 1928 itu salah satunya ialah mempersatukan seluruh organisasi atau perkumpulan pemuda di seluruh negeri (Nusantara yang sekarang disebut Indonesia) diantaranya organisasi pemuda Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamiten Bond dan lainnya untuk menyatukan visi dan semangat agar bisa mengangkat harkat dan martabat bangsanya. Jadi zaman dahulu pemuda-pemuda di daerah sudah memiliki rasa bangga membela harkat dan martabat kebangsaannya, yaitu bangsa Java, bangsa Ambon, bangsa Batak, bangsa Sumatra dan bangsa lainnya (disini admin menyebut suku yang dipahami oleh masyrakat umum dengan kata bangsa, karena "suku" yang tersebar di wilayah Nusantara/ Indonesia sudah mencukupi untuk disebut sebagai bangsa).

Tetapi kalau pemuda-pemuda ini hanya bangga membela bangsanya sendiri, bangsa java membela sesama bangsa java, bangsa batak, membela bangsa batak sendiri dan seterusnya, maka yang terjadi adalah para penjajah bisa dengan mudah mematahkan semangat juang para pemuda dan menghancurkan bangsanya. Politik atau cara yang dilakukan oleh penjajah untuk menghancurkan bangsa kita adalah devide et impera atau politik pecah belah. Penjajah mengadu domba bangsa satu dengan bangsa lainnya, bangsa java di adu domba dengan bangsa batak, bangsa batak dengan bangsa ambon dan seterusnya. Hingga timbullah perpecahan diantara pemuda bangsa kita. Inilah yang dilihat oleh para pahlawan yang menggagas adanya kongres pemuda. Mereka mengerti dan paham bahwasanya untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan Nusantara yang memiliki wilayah yang sangat luas ini dibutuhkan kesatuan visi dan misi diantara seluruh pemuda. Maka diadakanlah kongres pemuda itu yang puncaknya terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928.

Kesatuan visi ini bisa dilihat dari isi sumpah pemuda 28 Oktober 1928, yaitu kami poetra dan poetri indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa indonesia. Dari ketiga isi sumpah pemuda ini, seluruh pemuda bangsa-bangsa di seluruh Nusantara merelakan diri dan bangsanya untuk bersatu menyebut diri dan bangsanya dengan nama bangsa Indonesia, bersatu menyebut tanahnya tanah Indonesia, bersatu menyebut bahasa persatuannya bahasa Indonesia.

Maka sudah sepatutnyalah bangsa yang bernama bangsa Indonesia mengucapkan terimakasih kepada seluruh pemuda yang dulu bernama bangsa Java, bangsa Ambon, bangsa Batak, bangsa Sumatranen Bond dan bangsa lainnya, karena mereka sudah berbesar hati dan lapang dada untuk menyatukan semangat untuk mewujudkan nilai kemerdekaan yang lebih besar, yaitu kemerdekaan Indonesia.

Tetapi apa yang terjadi sekarang? Apa yang kita lihat dan kita saksikan perlakuan bangsa Indonesia kepada bangsa yang dahulu merelakan dirinya untuk disebut bangsa Indonesia? Ya, kita menyaksikan perlakuan yang tidak sepantasnya dari pihak yang dulu ditolong kepada pihak yang menolong. Kini bangsa java, batak, ambon, sumatra, dan bangsa lainnya direndahkan derajatnya dengan disebut dan distempel dengan nama suku dan daerah. Dulu yang derajatnya bangga sebagai bangsa java, bangsa ambon, bangsa batak, kini mereka setengah hati untuk menyebut tempat asal mereka. Contohnya ketika kita menyanyikan lagu tempat asal kita, kita menyebut berasal dari daerah jawa, batak, ambon dan sebaginya. Ketika ada yang bertanya lagu Apuse, kita menjawab itu berasal dari daerah Papua.

Penyebutan nama yang mengalami degradasi makna dan nilai sudah menimbulkan degradasi nilai dan sikap kita. Penyebutan nama bangsa menjadi suku atau daerah kini menciptakan rasa minder akan daerah asal kita. Kita merasa inferior, tidak berdaya untuk mempertahankan rasa bangga dan cinta kepada tempat asal kita, apalagi media-media pemberitaan naional kita tetap menyebut bangsa dengan suku, tanah wilayah dengan daerah, sehingga tambah malu saja untuk menampilkan kekhasan dari asal muasal kita, mulai dari bahasa, busana, serta nilai dan kearifannya.

Memang masih ada yang cinta dan bangga untuk tetap menggunakan bahasa, busana, nilai dan kearifan tempat asalnya, tetapi jumlahnya sangat sedikit sekali. Admin sendiri belum tahu pasti berapa persen dari jumlah penduduk di negeri ini karena memang belum ada penelitian yang meneliti hal ini. Mereka yang masih bangga dan setia memakai identitas asalnya tetap tidak mendapat tempat di negeri ini. Kita lihat di televisi, sinetron-sinetron yang ada selalu dan terus saja menggambarkan bangsa java sebagai pembantu. Tidak pernah ada gambaran bahwa bangsa jawa itu sebagai tuan rumah yang sah di tempat asalnya sendiri. Sungguh ironis sekali.

Oleh karenanya di saat moment sumpah pemuda ini, tanggal 28 Oktober 2015 sudah selayaknya kita memeplajari ulang sejarah kita, jangan muluk-muluk untuk mempelajari semua peristiwa sejarah, cukup dimulai dari peristiwa sejarah sumpah pemuda ini. Pemuda yang dulu bangga menyebut dirinya dengan nama Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, dan Jong lainnya, mesti menggaungkan kembali semnangat itu. Harus bangga dengan tempat asalnya. Wajib menghidupkan kembali nilai-nilai dan kearifan budayanya. Karena kita ditakdirkan oleh Tuhan di tempat asal kita, bisa jawa, sunda, batak, ambon, sumatra, sulawesi, dan sebagainya.

Maka dari itu bertetapatan dengan momen sumpah pemuda ini, kita bisa menyadari kembali semangat yang terkandung di dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928, merumusukan kembali makna nasionalisme, menggaungkan kembali semangat pemuda yang berdikari, menggalakan rasa cinta dan bangga akan tempat asal muasal kita, dan memakai kembali mutiara yanghilang dan terpendam yaitu nilai-nilai dan kearifan-kearifan budaya kita sendiri. Sehingga kita bisa mencetuskan kembali sumpah pemuda yang suci dan sejati. Pemuda zaman dahulu saja bisa mencetuskan sumpah pemuda 28 Oktober 1928, masa pemuda zaman sekarang tidak berani mencetuskan sumpah yang lebih suci dan sejati.




Era Globalisasi = Era Informasi?

Era Globalisasi = Era Informasi?


Kita sudah sering kali mendengar kata globalisasi. Ya, globalisasi. Sebenarnya istilah globalisasi diambil dari kata globalize yang mengacu pada kemunculan jaringan sistem sosial dan ekonomi berskala internasional. Menurut wikipedia istilah ini pertama kali digunakan dalam sebuah tulisan berjudul Towards New Education, kata globalisasi disini menunjuk tentang pandangan menyeluruh dibidang pendidikan.Sejak awal memang konsep kata globalisasi telah menginspirasi sejumlah definisi dan interpretasi, mulai dari cakupan perdagangan dan imperium besar di Asia sampai seterusnya.

Tetapi dewasa ini istilah globalisasi diperkenalkan dengan makna penintensifan hubungan sosial dunia yang menghubungkan berbagai tempat yang berjarak sangat jauh sehingga peristiwa di suatu tempat dapat mempengaruhi peristiwa yang terjadi di tempat lain yang berjarak kiloan meter jauhnya. Jadi kata kunci dari proses globalisasi ini adalah informasi. Dengan massifnya pemberitaan suatu peristiwa atau pemberian suatu informasi melalui berbagai media yang ada maka keadaan di suatu tempat yang jauh bahkan terpencil bisa diketahui oleh orang yang berada di tempat lain yang berjarak sangat jauh dari informasi tempat peristiwa itu terjadi.

Misalnya, di negara Amerika sedang mengadakan pemilihan Presiden. Dengan adanya berbagai media elektronik dan cetak yang memberitakan dan menginformasikan peristiwa pemilihan presiden ini ke seluruh negara maka yang terjadi adalah orang yang berada tidak di negara Amerika itu sendiri seperti di Pelosok Afrika, Amerika Latin bahkan dinegeri kita sendiri, Indonesia bisa mengetahui detik-detik peristiwa yang terjadi tentang pemilihan presiden Amerika ini meskipun perbedaan jarak dan waktu yang sangat jauh.

Ya memang sekarang informasi memang menjadi barang yang mahal. Siapa yang memegang informasi maka orang tersebut akan menjadi pusat referensi oleh pihak-pihak yang membutuhkan tentang informasi tersebut. Tak heran dewasa ini perusahaan berita entah media tv, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya begitu menjamur dan sangat gampang kita temui di suatu daerah. Karena mereka menyadari pentingnya informasi di era globalisasi ini.

Namun bagaimnakah kita menyikapi suatu informasi itu? Apakah kita menelan mentah-mentah begitu saja informasi tersebut, ataukah kita olah lagi informasi itu sebisa kita dengan tambahan informasi lain, atau kita telusuri lebih jauh berbagai sisi tentang suatu informasi itu sehingga kita tahu dan paham bahwasanya suatu peristiwa yang terjadi tidak terjadi begitu saja. Melainkan ada sebab dan akibat yang melatari suatu peristiwa itu terjadi dan juga adanya suatu "kepentingan" sehingga peristiwa itu menjadi materi pemberitaan yang masuk kategori Breaking News atau Berita Utama yang bisa sampai berhari-hari waktu pemberitaannya.

Contohnya saat kita makan. Apakah kita makan hanya karena kita memang ingin makan saja ataukah ada sebab akibat yang melatari kita untuk makan? Ya pasti ada. Kita makan karena kita merasa lapar, sehingga perut kita keroncongan dan otak kita memerintahkan sel-sel di seluruh tubuh untuk merespon hal itu dengan segera makan. Selanjutnya, apakah kita memakan makanan semuanya dan semau kita? Jawabnya bisa iya bisa tidak. Kalau yang tubuhnya alergi atau tidak bisa memakan suatu makanan maka ia akan memilih makanan yang dibolehkan untuk dimakan. Begitu juga dengan suatu informasi yang kita dengar di media-media, kita bisa menambahi peranyaan-pertanyaan untuk pemahaman diri kita sendiri dengan menambahkan pertanyaan seperti ini, Kenapa peristiwa itu terjadi sekarang, tidak minggu kemarin atau bulan depan? Lalu siapa yang berkepentingan dengan pemberitaan informasi ini. Kenapa di media ini pemberitaannya begitu massif sedangkan di media itu pemberitaannya hanya sekilas-sekilas saja. Dan masih banyak pertanyyan lainnya yang bisa kita daftari sendiri.

Semoga kita bisa lebih cerdas dan arif menyikapi suatu informasi pemberitaan yang marak di berbagai media negeri kita, karena mereka tahu dan sadar kalau era globalisasi ini memang eranya informasi. Tetapi bagi kita sebagai manusia dewasa yang mengerti dan paham akan nilai pemberitaan, kita sadari lebih jauh kalau memang era globalisasi sebagai era informasi, lalu posisi kita dimana? Apakah sebagai pengguna informasi, penikmat informasi, korban informasi, konsumen informasi, atau sebagai produsen informasi, pusat informasi, bahkan sebagai sumber informasi? Mari kita renungkan kembali.

Salam. Semoga bermanfaat.

Kebebasan Berkehendak

Kebebasan Berkehendak




Kebebasan. Ya, Kebebasan adalah kata yng semua orang ingin merasakannya. Bebas. Ya, memang Bebas tanpa batas. Semua orang ingin bebas melakukan apapun yang ingin ia lakukan tanpa dorongan dan paksaan dari siapapun, bebas mengatakan apapun tanpa takut diprotes orang lain, bebas berpendapat tanpa memperdulikan perasaan lawan bicaranya, bebas, bebas, dan bebas segala-galanya. Intinya, seseorang ingin berbuat sekehendak dirinya, bebas melakukan apa yang ia mau. Alangkah asyiknya kalau semua kebebasan itu bisa kita lakukan dan nikmati proses demi prosesnya.

Tapi apakah benar adanya bahwa kebebasan itu berwujud? Ataukah itu hanya ungkapan kata yang mewakili keinginan manusia-manusia yang ingin bebas dari "keterbatasan" untuk berbicara, bertindak dan berpendapat. Bukti tentang tidak adanya kebebasan itu ialah banyaknya peraturan-peraturan yang dibuat, entah berbentuk perundang-undangan, ajaran agama, norma-norma sosial, tata cara berperilaku, adat istiadat dan peraturan lainnya yang tidak tertulis. Bukankah dengan adanya peraturan-peraturan itu membatasi individu ataupun sekelompok individu untuk tunduk dan patuh melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Lalu dimanakah letak kebebasan itu?

Seseorang ingin bebas sekehendak dirinya melakukan suatu perbuatan seperti menyalakan musik dengan suara yang keras di kamarnya, tetapi sudah ada peraturan yang tak tertulis kalau ia tidak boleh melakukannya kecuali pada saat ada acara hajatan. Seseorang ingin bebas berpendapat apapun sesuai dengan pemikirannya tetapi ia tahu ada suatu peraturan yang mengatur bahwasanya ia harus mengerti dan memahami perasaan lawan bicaranya. Jadi, benarkah kebebasan berkehendak itu ada?

Sebelum membahas lebih jauh tentang apakah kebebasan berkehendak itu benar adanya, alangkah baiknya kita samakan persepsi dari kata kebebasan itu sendiri. Jangan sampai ketika sudah berbicara banyak tantang roti dari berbagai sisinya, bahan dan alat pembuatannya, tempat pencetakannya, suhu ruangannya, dan lain sebagainya akan tetapi kita sendiri belum merasakan roti apa yang sedang kita bicarakan itu. Bukankah banyak sekali jenis roti yang ada di dunia ini, sehingga dari masing-masing roti itu memiliki karakteristik penanganan pengolahan yang berbeda-beda. Jadi kita samakan dulu persepsi tentang arti kebebasan itu apa? Seperti apa? Bagaimana?

Selama ini kalau kita mendengar kata kebebasan, pemahaman apa yang ada di benak pikiran kita?. Suatu keadaan atau kondisi dimana seseorang bebas melakukan sesuatu sekehendak dirinya. Ya, kurang lebih pengertian inilah yang banyak ditelan mentah-mentah oleh sebagian besar masyarakat kita. Kebebasan diartikan sebagai keliaran,bebas melakukan apapun, tanpa memperdulikan sekelilingnya. Itulah yang membuat kacau kehidupan ini. Disatu sisi orang-orang mengejar yang namanya kebebasan, akan tetapi yang ia kejar itu sebenarnya adalah egosime. Eksistensi dirinya. Hanya dirinya saja yang ada, orang lain dianggap sebagai pelengkap kehidupan. Atau ia merasa lebih tinggi dari semua orang sehingga ia merasa bebas melakukan apapun asala ia puas dan bahagia.

Apakah pengertian seperti diatas yang selama ini dipahami tentang kebebasan berkehendak? Kalau memang benar persepsi kita akan kata kebebasan berkehendak itu adalah bebas berbuat apapun, maka ingatlah bukan kebebasan yang akan kita dapatkan tetapi kekacauanlah yang akan menimpa. Dan apabila itu terus berlangsung pastilah akan mendatangkan kehancuran dalam kehidupan dunia ini. Maka dari itu semestinya kita mendefinisikan ulang semua kata-kata, jangan kita telan mentah-mentah begitu saja definisi yang sudah ada. Bukankah Tuhan sudah membekali kita dengan akal? Untuk mencapai predikat sebaik-baik ciptaan-Nya, selayaknya kita gunakan kembali akal yang dahsyat ini. Bukan malah membelenggunya dengan cara tidak mempertanyakan kembali apa-apa yang sudah kita pahami.

Setelah langkah awal kita lakukan, yaitu mendayagunakan akal kita untuk mempertanyakan kembali pemahaman dan perbendaharaan pengetahuan kita maka langkah berikutnya yang akan dilalui oleh masing-masing manusia adalah perubahan mendasar pola berfikir, manajemen mental, serta ketajaman hati nurani yang bertujuan untuk Mamayu Hayuning Bawono.

Bersambung....

Revolusi Menuju Perubahan

Revolusi Menuju Perubahan



Disaat kehidupan yang berlangsung ditengah-tengah masyarakat dalam keadaan "mati suri", hidup segan mati tak mau, serta seabrek ungkapan senada yang mewakili peristiwa kehidupan sudah tidak lagi adanya keadilan hukum, kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, serta kepercayaan diri untuk mengelola sumber daya alam dalam negeri, maka apakah Revolusi sudah saatnya terjadi?

Berbicara tentang revolusi memang bagi sebagian masyarakat memandang kata ini seperti ada ketakutan dan alergi, bahkan untuk mendengar kata revolusi saja sudah membuat bayangan didalam benak mereka seperti seekor monster yang menghancurkan. Tetapi bagi sebagian kecil masyarakat yang menginginkan adanya revolusi, maka timbul semangat militansi mereka untuk segera melakukan perubahan-perubahan yang dipikir-pikir memang sudah seharusnya terjadi. Ya, nasib Revolusi seperti tokoh dalam film yaitu Robin Hood. Ia diharapkan oleh sebagian kecil masyarakat yang merindukan kehidupan yang adil dan merata, tetapi dibenci oleh sebagian besar masyarakat golongan "elit" yang tidak mengharapkan adanya perubahan. Karena kehidupan masyarakat golongan "elit" ini sudah mapan dan nyaman dengan keadaan yang berlangsung, maka mereka takut dengan adanya perubahan itu.

Didalam negeri kita sendiri tercatat ada beberapa peristiwa revolusi, contohnya peristiwa malari yang terjadi pada 15 Januari 1974 dibawah komando Hariman Siregar. Sesungguhnya gerakan revolusi diawali dengan niat yang mulia, diantaranya yaitu mengembalikan kebijakan pembangunan dalam negeri yang memihak kepada warga negara sendiri, membersihkan pejabat negara yang terlibat dengan tindakan penyelewengan dan korupsi serta pengelolaan sumber daya alam oleh negeri sendiri bukan diserahkan ke pihak asing, sehingga hasilnya bisa mensejahterakan masyarakat.

Namun pada kenyataannya, makna dari kata revolusi sudah sedemikian melenceng jauh yang asal maknanya adalah perubahan mendasar ke arah lebih baik yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan berlangsung dengan cepat, tetapi maknanya kini berganti dengan tindakan melawan aturan yang menimbulkan kekacauan, tindak kriminal, dan mengganggu ketertiban. Entah siapa "tangan-tangan" yang bekerja secara halus membelokkan makna kata revolusi ini, tetapi bagi sebagian kecil masyarakat yang merindukan kehidupan yang jauh dari tindak keserakahan penguasa, penyelewangan para pejabat negara, tindakan culas aparatur negara, tindakan pembohongan dan penipuan penguasa terhadap rakyatnya, maka kata-kata Hariman Siregar akan tetap terpatri didalam dada dan hati para pendamba kehidupan yang adil dan bermartabat, yaitu "Sesungguhnya Revolusi Yang Kita Mau!".

Dan disaat kondisi dan situasi dalam negeri kita sekarang ini, begitu seringnya pemberitaan media tentang pejabat yang tertangkap melakukan tindak korupsi oleh KPK -meskipun itu hanya sebagian kecil-, maraknya penyalahgunaan narkoba oleh masyarakat, merosotnya moral dan akhlak, semakin massifnya pemerkosaan, penindasan dan pelecehan nilai-nilai kemanusiaan oleh manusia itu sendiri, , dan seabrek berita buruk yang beredar di media cetak dan elektronik, lalu apa yang kita harapakan lagi? Apakah kita ingin membiarkan saja keadaan ini hingga kehidupan kita ambruk dengan sendirinya, ataukah kita mengharapkan adanya perubahan mendasar dari berbagai segi kehidupan kita?. Mari kita perhatikan dengan seksama situasi dan kondisi kehidupan di lingkungan masyarakat terdekat kita, lalu tanya hati nurani kita yang terdalam, sesungguhnya apakah yang kita harapkan?

Be Yourself: Menjadi Diri Sendiri

Be Yourself: Menjadi Diri Sendiri

Hasil gambar untuk be yourself
sumber: quotesfans.com
Aku Berfikir Maka Aku Ada....

Sudah sering kita dengar kalimat "jadilah dirimu sendiri", entah itu di acara televisi, radio, ataupun dalam kehidupan nyata kita sendiri. Petuah ini mengandung makna perintah terhadap seseorang yang diberi nasehat jadilah dirimu sendiri. Karena setiap pribadi masing-masing memiliki keunikan yang telah Tuhan anugerahkan maka memang sudah sewajarnya setiap seseorang harus menjadi dirinya sendiri. Namun pada kenyataannya mengapa kalimat jadilah dirimu sendiri ini masih saja sering terdengar? Kita asumsikan saja bahwa masih banyak orang yang tidak menjadi dirinya sendiri, oleh karenanya petuah ini selalu diperdengarkan untuk mengingatkan orang-orang yang sudah tidak menjadi dirinya sendiri agar kemudian menyadari bahwa ia sudah bukan dirinya yang sebagaimana telah Tuhan takdirkan atas dirinya.

Apapkah begitu sulit dan susahnya untuk menjadi diri sendiri. Ataukah memang kita sengaja untuk tidak menjadi diri kita sendiri dan lebih enak menjadi orang lain. Itu bisa kita gali lebih jauh lagi alasan-alasan atau penyebab kita sadar atau tidak sadar menjalani hidup meniru orang lain. yang sedang dibahas disini lebih kepada mengenali sisi baik dan sisi buruk dari keadaan diri sendiri. Karena dengan kita mengenal sisi positif dan negatif kita sendiri diharapkan setiap pribadi bisa menerima dirinya apa adanya, sebab ia sadar tidak ada yang sempurna dalam kehidupan dunia ini.

Kita ingat kembali dari masa kecil kita, terus remaja, hingga dewasa sekarang ini perbuatan mana yang banyak kita lakukan, apakah perbuatan baik ataukah perbuatan buruk. Setelah memori itu berhasil kita ingat kembali, lalu sadari lebih dalam kenapa kita melakukannya. Apakah dengan sadar kita melakukannya, atau sudah otomatis kita lakukan perbuatan itu tanpa kita sadari alasannya mengapa kita melakukannya.

Kalau kita menerima diri kita apa adanya, kita akan menyadari memang seperti itulah diri kita adanya. namun sebaliknya, kalau kita tidak menerima diri apa adanya maka akan timbul kebencian terhadap diri kita sehingga kita lari menjauh dari diri sendiri dan menjadi diri orang lain yang kita sangka lebih baik dari diri kita....

Bersambung...

Musibah Asap Indonesia

Musibah Asap Indonesia



Akhir-akhir ini bangsa Indonesia khususnya di daerah Provinsi Kalimantan disibukkan dengan asap. ya, asap yang menyelimuti sebagian bahkan hampir seluruh kota-kota di Provinsi Kalimantan. Asap begitu mengganggu aktivitas keseharian warga. Jalan keluar yang warga lakukan yaitu menggunakan masker dalam melakukan kegiatan mereka sehari-hari.

Pada dasarnya asap merupakan augerah yang diberikan Tuhan jika asap itu menggumpal menjadi segumpalan awan-awan diangkasa. Banyak yang memotret untuk mengabadikan keindahan asap yang menggumpal menjadi awan tersebut. Tapi yang terjadi di Kalimantan ini berbeda kondisinya, asap hanya berputar menyelimuti kota-kota di bagian bawah atmosfer bumi, yang pada akhirnya hanya menimbulkan keresahan berbagai kalangan.

Entah sudah berapa lama asap menyelimuti wilayah Provinsi Kaimantan ini, bahkan menurut kabar yang beredar negara tetanggapun ikut menghirup asap-asap ini. Dan peristiwa ini menjadi santapan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik. pada sebagian pemberitaan ataupun demo yang dilakukan warga terdapat berbagai macam poster maupun spanduk, tapi yang menarik untuk dikupas disini adalah salah satu poster yang bertuliskan melawan asap. Coba kita renungkan sedikit kata-kata itu. Apakah kita bisa tangkap maknanya? Mengapa kita harus melawan asap? Alangkah etisnya kalau kita ganti tulisan Melawan Asap itu dengan Melawan Oknum Penyebar Asap, atau Melawan Oknum Penyebab Kebakaran Hutan. Karena kalau kata-kata melawan asap yang digunakan, bukankah itu ada unsur kita menyalahkan Tuhan yang sudah menciptakan asap???

Revolusi Berfikir

Revolusi Berpikir Tingkatkan Kepribadian
 
Pikiran kita pada dasarnya akan membentuk mentalitas serta kepribadian diri secara umum. Untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, seseorang harus menata pikirannya dan menjernihkan hatinya. Kita harus berani melakukan revolusi berpikir jika mengetahui ada sesuatu yang salah kaprah.

Namun pada kenyataannya, perbuatan yang secara sadar telah kita pahami sebagai kesalahan justru semakin berkembang dikalangan masyarakat akibat tumpulnya mata hati dan lemahnya akal pikiran.Ambil contoh, ketika seseorang telah memberikan nilai tinggi terhadap suatu barang yang ingin dimiliki dan sepertinya sulit didapat, akan timbul hasrat dan godaan untuk memilikinya dengan cara apa pun; walaupun harus dengan mencurinya. Ia sudah tidak memikirkan akibat sesduahnya, ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang penting ia sudah puas telah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Inilah sifat dasar manusia yang tidak jarang menimbulkan permasalahan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan ego, emosi dan keinginan untuk merebut hak orang lain. Sifat dasar manusia hanya merusak, itulah yang diingatkan oleh para malaikat ketika Tuhan akan menjadikan manusia sebagai kholifah di muka bumi. Namun, apakah sifat dasar yang merusak itu tidak bisa dirubah menjadi sifat dasar yang memberikan manfaat kepada sesama? Sangat bisa, buktinya Tuhan malah membela kita, manusia, dari pada pernyataan malaikat yang mendiskreditkan sifat manusia. Tuhan menjawab, Aku lebih tahu sedangkan kalian (malaikat) tidak mengetahui -dibalik penciptaan manusia-.

Oleh karenanya, apakah kita ingin menjadi golongan manusia yang merusak ataukah golongan manusia yang bermanfaat. Sudah selayaknya kita merevolusi pikiran kita, merevlusi hati kita, merevolusi mental kita, karena Tuhan sudah membela kita dihadapan para malaikat.

Judul Artikel : Revolusi Berfikir

sumber: http://www.syaifulmaghsri.com/artikel-bioenergi/revolusi-berpikir-tingkatkan-kepribadian/

Sejarah Bangsa Jawa (Teliti lebih lanjut)

Sejarah Bangsa Jawa (Teliti Lebih Lanjut)


Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera. Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.

Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).

Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.vSekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.

Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada. Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).

Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :

1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.

2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…

3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.


Artikel ini sebagai pengantar pembuka wacana diantara kita, diperlukan diskusi dan peneltian yang lebih. semoga ini dapat menjadi pemahaman dan penegasan diri akan asal usul bangsa jawa.
sumber: http://atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.com/2010/12/misteri-leluhur-bangsa-jawa.html

Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik

Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik




Revolusi Berfikir Merupakan Awal Revolusi Tindakan

Salam Sejahtera

Hidup sekali patutlah diperjuangkan dan dilalui dengan sebaik-baiknya. Melakukan kesalahan masih bisa diampuni asalkan itu menjadi bahan dan materi pembelajaran untuk merubah hidupmu ke arah yang lebih baik dan benar. Luangkan waktu sedikit untuk menghilang dari kehidupan dan kemewahan dunia, beri waktu kepada hati untuk menjemput inayah dan anugerah dari Tuhan, beri jeda kepada otak untuk mengolah dan mentransformasi segala informasi yang anda dapat. kapanpun, dimanapun, dan dalam hal apapun. sehingga menghasilkan pemikiran yang jernih, tepat dan bermanfaat.

Hidup di dunia bagaikan satu tarikan nafas, sangat singkat untuk kita larut dalam duka dan derita kehidupan. Bukankah Rendra sudah lama mengingatkan dengan sajaknya, "suka duka kita tidaklah istimewa karena setiap orang mengalaminya". Bagi yang sulit menerima keadaan maka akibatnya pastilah ia akan menderita. Tetapi bagi yang menerima keadaan yang menimpa dirinya dengan apa adanya, maka bersyukurlah karena Tuhan sedang menganugerahkan kasih sayang-Nya kepadamu. Ingatlah, hanya jiwa yang tenang yang dipanggil oleh Tuhan untuk masuk ke dalam syurga-Nya, bukan jiwa yang gelisah, yang was-was, yang dipanggil-Nya.

Terimalah diri kita apa adanya, itulah ketetapan Tuhan yang sudah dituliskan di Lauh Mahfudz-Nya, tinggal kita jalani saja peran kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya, dalam kesungguhan mengharap ridho-Nya, dan dengan keikhlasan dalam menjemput takdir berikutnya.

Semoga dengan kita ikhlas menerima hal-hal yang baik maupun hal-hal yang buruk yang ada dalam diri kita, Tuhan senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan kepada kita dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini hingga ke akhirat nanti.

Sugeng Rawuh Poro Sedulur

Terima Kasih Sudah Meluangkan Sedikit Waktu Anda untuk Mengunjungi Blog Ini

Popular Posts

Powered by Blogger.